
Selasa, 23 Juni 2026, keluarga besar YPP Al-Jawahiriyyah Campurejo menempuh perjalanan ziarah ke makam Sunan Bonang, Syekh Ibrahim Asmoroqondi, Syekh Maulana Ishaq, dan Sunan Drajat. Perjalanan ini tidak sekadar berpindah dari satu makam ke makam lainnya. Ia seperti membuka kembali halaman-halaman awal sejarah Islam di tanah Jawa.
Keempat tokoh tersebut terhubung dalam jaringan dakwah yang kuat. Syekh Ibrahim Asmoroqondi dikenal dalam tradisi sejarah sebagai ayah Sunan Ampel. Dari keluarga Sunan Ampel kemudian lahir Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Sementara itu, Syekh Maulana Ishaq dikenal sebagai ayah Sunan Giri. Mereka dipertautkan oleh hubungan keluarga, keilmuan, dan cita-cita yang sama: menghadirkan Islam di tengah masyarakat Jawa secara arif dan membumi.
Jaringan itu memperlihatkan bahwa dakwah tidak pernah menjadi pekerjaan seorang diri. Islam berkembang melalui perjumpaan antargenerasi, perjalanan ulama, pendidikan, perkawinan, kebudayaan, dan keteladanan sosial. Sunan Bonang dikenal menggunakan seni dan sastra sebagai media dakwah. Sunan Drajat menekankan kepedulian terhadap kaum lemah. Para wali tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga memahami bahasa batin dan kebudayaan masyarakat yang mereka hadapi.
Karena itu, ziarah wali dapat ditempatkan sebagai cara menelusuri sejarah yang hidup. Makam bukan hanya tempat bersemayamnya jasad, melainkan penanda bahwa sebuah peradaban pernah dibangun melalui pengorbanan manusia. Di sana, generasi sekarang dapat belajar bahwa Islam di Nusantara tumbuh melalui ilmu, kesabaran, jaringan sosial, dan kemampuan merangkul kebudayaan.
Namun, ziarah harus tetap ditempatkan secara tepat dalam tradisi keislaman. Ziarah bukanlah pemujaan terhadap orang yang telah wafat. Doa tetap ditujukan kepada Allah, sedangkan para wali dikenang, didoakan, dan diteladani perjuangannya. Rasulullah menganjurkan ziarah kubur karena ia mengingatkan manusia kepada kematian dan kehidupan akhirat.
Kesadaran akan kematian semestinya tidak menjauhkan manusia dari kehidupan. Sebaliknya, ia menyadarkan bahwa umur harus diisi dengan sesuatu yang bernilai. Para wali telah meninggalkan ilmu, lembaga, tradisi, dan keteladanan. Para peziarah pun perlu bertanya: jejak kebaikan apa yang kelak kita tinggalkan?
Bagi YPP Al-Jawahiriyyah, perjalanan ini juga memiliki arti pendidikan. Anak-anak, guru, pengurus, dan keluarga besar yayasan diajak mengenal Islam bukan hanya melalui buku, tetapi juga melalui tempat, tokoh, dan jejak sejarah. Ziarah mempertemukan doa dengan pengetahuan, ingatan dengan keteladanan, serta kekhusyukan dengan tanggung jawab sosial.
Pada akhirnya, nilai ziarah tidak hanya terletak pada seberapa banyak makam yang dikunjungi, tetapi pada perubahan yang dibawa pulang. Kita datang untuk mendoakan para pendahulu, tetapi sekaligus diingatkan agar meneruskan nilai yang dahulu mereka perjuangkan: dakwah yang berilmu, berbudaya, peduli kepada sesama, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat dalam kehidupan.
*Abid Rohmanu: Ketua YPP Al-Jawahiriyyah





Recent Comments